SMA Harapan Bangsa
Tahun Ajaran 2009/2010
I. Tujuan : Untuk menyelidiki serta mengamati protista yang ada di dalam rendaman jerami.
II. Alat dan Bahan :
Alat
Kaca benda
Kaca penutup
Mikroskop
pinset
Bahan
Air
jerami
III. Dasar Teori :
Protista merupakan sekelompok mahluk hidup heterogen, terdiri dari eukariota yang tidak termasuk hewan, tumbuhan, atau fungus. Mereka pernah dikelompokkan ke dalam satu kerajaan bernama Protista, namun sekarang tidak dipertahankan lagi. Penggunaannya masih digunakan untuk kepentingan kajian ekologi dan morfologi bagi semua organisme eukariotik bersel tunggal yang hidup secara mandiri atau, jika membentuk koloni, bersama-sama namun tidak menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan yang berbeda-beda. Dari sudut pandang taksonomi, pengelompokan ini ditinggalkan karena bersifat parafiletik.
Protozoa adalah protista yang mirip dengan hewan
Protozoa hampir semuanya protista bersel satu, mampu bergerak yang makan dengan cara fagositosis, walaupun ada beberapa pengecualian. Mereka biasanya berukuran 0,01-0,5 mm sehingga secara umum terlalu kecil untuk dapat dilihat tanpa bantuan mikroskop. Protoza dapat ditemukan di mana-mana, seperti lingkungan berair dan tanah, umumnya mampu bertahan pada periode kering sebagai kista (cyst?) atau spora, dan termasuk beberapa parasit penting. Berdasarkan pergerakannya, protozoa dikelompokkan menjadi:
• Flagellata yang bergerak dengan flagella(rambut cambuk). Contoh: Euglena
• Amoeboida yang bergerak dengan pseudopodia (kaki semu/kaki akar) yaitu yang berarti setiap kali ia akan bergerak harus membentuk kaki semu sebelum dapat bergerak dan pembentukan kaki ini dinamakan fase gel. Contoh: Amoeba
• Cilliata yang bergerak dengan silia (rambut getar). Contoh: Paramaecium
• Sporozoa yang tidak memiliki alat; beberapa mampu membentuk spora. Contoh: Toxoplasma
Algae adalah protista yang mirip dengan tumbuhan
Algae mencakup semua organisme bersel tunggal maupun banyak yang memiliki kloroplas. Termasuk di dalamnya adalah kelompok-kelompok berikut.
• Alga hijau, yang memiliki relasi dengan tumbuhan yang lebih tinggi (Embryophyta). Contoh: Ulva
• Alga merah, mencakup banyak alga laut. Contoh: Porphyra
• Heterokontophyta, meliputi ganggang coklat, diatom, dan lainnya. Contoh: Macrocystis.
Alga hijau dan merah, bersama dengan kelompok kecil yang disebut Glaucophyta, sekarang diketahui memiliki hubungan evolusi yang dekat dengan tumbuhan darat berdasarkan bukti-bukti morfologi, fisiologi, dan molekuler, sehingga lebih tepat masuk dalam kelompok Archaeplastida, bersama-sama dengan tumbuhan biasa.
Protista yang mirip dengan jamur
Beragam organisme dengan organisasi tingkat protista awalnya dianggap sama dengan jamur, sebab mereka memproduksi sporangia. Ini meliputi chytrid, jamur lendir, jamur air, dan Labyrinthulomycetes. Chytrid sekarang diketahui memiliki hubungan dengan Fungi dan biasanya diklasifikasikan dengan mereka. Sementara yang lain sekarang ditempatkan bersama dengan heterokontofita lainnya (yang memiliki selulosa, bukan dinding chitin) atau Amoebozoa (yang tidak memiliki dinding sel).
Tampilkan postingan dengan label praktikum biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label praktikum biologi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Agustus 2011
Selasa, 23 Agustus 2011
(Menguji Kandungan Gizi Pada Makanan)
Judul Eksperimen : Menguji Kandungan Gizi Pada Makanan.
Tujuan : Untuk mengetahui kandungan zat gizi(karbohidrat, protein, lemak dan glukosa)pada berbagai bahan makanan.
Alat dan Bahan :
Tabung reaksi dan raknya.
Pipet tetes
Lumpang dan Mortar
Air
Aquades
Larutan
Lugol
Larutan Benedict
Larutan Fehling A
fehling B
Piring objek
Lampu Spiritus
Bahan makanan : -nasi -terigu
-roti
-susu-
kertas HVS
-telur(kuning)
-gula
-telur(putih)
-mentega
-ikan
-minyak
-mie instan
-susu-
kertas HVS
-telur(kuning)
-gula
-telur(putih)
-mentega
-ikan
-minyak
-mie instan
Cara kerja :
A UJI KARBOHIDRAT
1.Langkah pertama semua bahan makanan di lumatkan padapiring objek2.
Bahan makanan tersebut di tetesi larutan lugol 1-2 tetes.3.
Kemudian diamati perubahan warnanya.4.
Apabila warna berubah menjadi biru tua (Hitam) berartimakanan tersebut mengandung karbohidrat.B.
UJI PROTEIN
1. Langkah pertama bahan makanan di haluskan denganmenggunakan mortal dan lumpang serta ditambahkan sedikita
quades pada bahan makanan tersebut hingga encer.
2.Bahan makanan yang telah encer tersebut, di masukkan lelempeng cawan.
3.Kemudian di tetesi larutan biuret, sekitar 4-5 tetes.
4. Setelah di tetesi larutan biuret lempengan cawan tersebut diaduk.5.
Kemudian diamati perubahannya akam menggumpal atau tidakmenggumpal.
PENGERTIAN DARI FOTOTROPISME DAN
1) Fototropisme
Percobaan N Cholodny dan Frits went menerangkan
bahwa pada ujung koleoptil tanaman, pemanjangan sel yang
lebih cepat terjadi di sisi yang teduh daripada sisi yang terkena
cahaya. Sehingga, koleoptil membelok ke arah datangnya
cahaya. Hal ini terjadi, karena hormon auksin yang berguna
untuk pemanjangan sel berpindah dari sisi tersinari ke sisi
terlindung.
Banyak jenis tumbuhan mampu melacak matahari, dalam
hal ini lembar datar daun selalu hampir tegak lurus terhadap
matahari sepanjang hari. Kejadian tersebut dinamakan
diafototropisme. Fototropisme ini terjadi pada famili Malvaceae.
Untuk lebih memahami pengaruh cahaya terhadap
tanaman atau perkecambahan, coba kamu rencanakan dan
laksanakan kegiatan berikut ini dengan teman sekelompokmu.
Percobaan N Cholodny dan Frits went menerangkan
bahwa pada ujung koleoptil tanaman, pemanjangan sel yang
lebih cepat terjadi di sisi yang teduh daripada sisi yang terkena
cahaya. Sehingga, koleoptil membelok ke arah datangnya
cahaya. Hal ini terjadi, karena hormon auksin yang berguna
untuk pemanjangan sel berpindah dari sisi tersinari ke sisi
terlindung.
Banyak jenis tumbuhan mampu melacak matahari, dalam
hal ini lembar datar daun selalu hampir tegak lurus terhadap
matahari sepanjang hari. Kejadian tersebut dinamakan
diafototropisme. Fototropisme ini terjadi pada famili Malvaceae.
Untuk lebih memahami pengaruh cahaya terhadap
tanaman atau perkecambahan, coba kamu rencanakan dan
laksanakan kegiatan berikut ini dengan teman sekelompokmu.
Praktikum: Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Panduan Praktikum: Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Halo.......Sudah praktikum Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan?
Dengan preparat buatan sendiri??
Berikut ini akan saya berikan panduan gambar-gambar yang seharusnya anda peroleh dalam pengamatan yang telah kita tentukan dalam prosedur praktikum.
1. Leaf ls : stomata
![]() |
| Stomata pada epidermis bawah Rhoeo discolor |
![]() |
| Stomata pada epidermis bawah daun Zea mays ( SEM ) |
2. Monocot stem cs
3. Dicot stem cs
4. Stem ls
5. Dicotyl Root cs
6. Leaf cs
![]() |
| Zea mays leaf. ts |
Senin, 22 Agustus 2011
Praktikum: Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Panduan Praktikum: Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Halo.......Sudah praktikum Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan?
Dengan preparat buatan sendiri??
Berikut ini akan saya berikan panduan gambar-gambar yang seharusnya anda peroleh dalam pengamatan yang telah kita tentukan dalam prosedur praktikum.
1. Leaf ls : stomata
![]() |
| Stomata pada epidermis bawah Rhoeo discolor |
![]() |
| Stomata pada epidermis bawah daun Zea mays ( SEM ) |
2. Monocot stem cs
3. Dicot stem cs
4. Stem ls
5. Dicotyl Root cs
6. Leaf cs
![]() |
| Zea mays leaf. ts |
Praktikum Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI IPA 1
Hasil Praktikum Struktur Jaringan Tumbuhan Kelas XI IPA 1
Mereka sudah berusaha denan sebaik mungkin, meskipun hasilnya jauh dari sempurna namun usaha mereka sangat pantas diberi penghargaan.....Mudah-mudahan bisa memberi motivasi bagi yang lain..... (^_^)V
![]() |
| Penampang melintang daun Rhoeo discolor |
![]() | |
| Penampang membujur daun Zea mays dengan stomata |
![]() |
| Penampang Membujur daun Zea mays dengan stomata |
http://dunianyasari.blogspot.com/2011_08_01_archive.html
Struktur dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan
Jaringan pada tumbuhan terdiri atas
A. Jaringan MeristemB. Jaringan Dewasa
A. Jaringan Meristem
Adalah jaringan yang masih aktif membelah, memiliki ciri-ciri sebagai berikut
- Sel memiliki bentuk yang sama, belum mengalami diferensiasi dan spesialisasi
- Umumnya berbentuk kubus
- Dinding sel tipis
- Protoplasma banyak
- Vakuola kecil
- Inti sel besar
- Kloroplas belum masak, sehingga warnanya cenderung lebih muda
Derdasar letaknya, jaringan meristem dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
- Meristem apikal ( meristem pucuk )
- Meristem lateral
- Meristem interkalar
Meristem apikal misalnya jaringan yang terdapat pada ujung akar dan ujung batang
Meristem lateral misalnya pada jaringan kambium gabus
Meristem interkalar adalah meristem yang terdapat diantara jaringan dewasa
Pada meristem apikal, terdapat promeristem yaitu calon jaringan meristem yang nantinya akan berkembang menjadi jaringan-jaringan yang lain/ Yaitu
- Protoderma yang akan berkembang menjadi jaringan epidermis
- Prokambium yang akan berkembang menjadi kambium, xilem dan floem
- Meristem dasar yang akan berkembang menjadi jaringan parenkim, kolenkim dan sklerenkim
B. Jaringan Dewasa
Jaringan dewasa adalah jaringan yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Biasanya bentuknya disesuaikan dengan fungsinya.
Jaringan dewasa terdiri atas
- Jaringan epidermis
- Jaringan pengangkut ( xilem dan floem )
- Jaringan penyokong/ penguat ( kolenkim dan sklerenkim )
- Jaringan pengisi/ parenkim
- Jaringan gabus/ feloderma ( felogen dan felem )
PRAKTIKUM: PLASMOLISIS
A. JUDUL PRAKTIKUM: PLASMOLISIS
B. TUJUAN: Mengamati terjadinya peristiwa plasmolisis pada daun Rhoeo discolor
C. DASAR TEORI
Plasmolisis adalah peristiwa terlepasnya membran sel pada sel tumbuhan akibat sel berada pada lingkungan yang bersifat hipertonis. Kondisi sel yang hipotonis terhadap lingkungan mengakibatkan terjadinya peristiwa osmosis dari sel ke lingkungan. Akibatnya kadar air di dalam sel menurun drastis dan membran sel terlepas dari dinding sel.
D. ALAT DAN BAHAN
Alat:
Mikroskop 1 unit
kaca obyek 4 buah
Kaca penutup 1 buah
Pipet 1 buah
Pinset 1 buah
Gelas bekker 1 buah
Silet yang tajam disesuaikan
Bahan
Daun Rhoeo discolor
Larutan garam
Kertas tissue
E. CARA KERJA
- Buatlah sayatan tipis daun Rhoeo discolor ( ambillah bagian permukaan bawah yang berwarna ungu )
- Letakkan pada kaca obyek, tetesi air, tutup dengan kaca penutup
- Amati dibawah mikroskop
- Gambarkan hasil pengamatan anda
- Buanglah air dari preparat yang anda buat ( gunakan kertas tissue ) prlahan-lahan
- Gantikan air dengan larutan garam
- Amati dan bandingkan kondisi sel sebelum dan sesudah ditetesi larutan garam
- Gambarkan hasil pengamatan anda!
Hasil Ideal
Sebelum ditetesi larutan garam
Warna ungu nampak penuh dan merata
Sesudah ditetesi air garam
Warna ungu menjadi tidak merata, mengumpul di tengah atau tepi, menunjukkan adanya pelepasan membran sel dari dinding sel
Sabtu, 20 Agustus 2011
Zat pengatur tumbuh (hormon)
Zat pengatur tumbuh (hormon) pada tanaman ialah senyawa
organik yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat,
dan mengubah proses fisiologis tumbuhan. Pada
konsentrasi tertentu hormon dapat memacu pertumbuhan,
tetapi pada konsentrasi yang tinggi dapat menekan pertumbuhan.
Macam-macam hormon sebagai berikut.
1) Auksin
Auksin mula-mula ditemukan oleh Darwin,
dengan percobaan pengaruh penyinaran
terhadap koleoktil. Auksin adalah hormon
yang berperan merangsang pembelahan sel
dan pengembangan sel. Hormon auksin/
IAA memiliki sifat menjauhi cahaya.
Hormon ini diproduksi pada ujung tunas
akar dan batang. Pengaruh hormon auksin
dalam konsentrasi yang berbeda pada
bagian tubuh tanaman mengakibatkan
terjadinya pertumbuhan yang tidak seimbang.
Bagian yang mengandung auksin
lebih banyak memiliki kecepatan tumbuh
yang lebih besar. Adapun bagian yang
kekurangan akan mengalami pertumbuhan
lebih lambat. Jika ini terjadi pada pucuk
batang, terjadi pembengkokan arah pertumbuhan.
Pengaruh auksin terhadap perkembangan
sel memperlihatkan bahwa auksin dapat
menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan
permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan
tekanan pada dinding-dinding sel, meningkatkan sintesis
protein, meningkatkan plas-tisitas, mengembangnya
dinding sel.
Dilihat dari segi fisiologi, hormon auksin berpengaruh
pada:
a) pengembangan sel; e) partenokarpi;
b) fototropisme; f) pembentukan batang.
c) geotropisme;
d) pertumbuhan akar;
a. pembelahan sel secara mitoses dan
sel tidak mengalami pembesaran
b. vakuola-vakuola terbentuk dalam
sitoplasma, pembesaran sel
dimulai
c. vakuola-vakuola bergabung sel
menjadi luas dan panjang
auxin
diangkut
ke
tangkai
bawah
daerah pembentukan
daerah auxin
pembelahan
sel
10 Biologi SMA Jilid 3
2) Giberelin
Giberelin merupakan jenis hormon yang mulamula
ditemukan oleh Kuroshawa dari Jepang.
Hormon ini berpengaruh terhadap sifat genetik,
pembungaan, penyinaran, dan mobilisasi karbohidrat
selama perkecambahan. Hormon ini berperan
dalam mendukung perpanjangan sel, aktivitas
kambium mendukung pembentukan RNA
baru, dan sintesis protein.
3) Sitokinin
Sitokinin ditemukan oleh Kinetin. Sitokinin berfungsi
untuk:
a) merangsang pembelahan sel;
b) merangsang pembentukan tunas;
c) menghambat efek dominasi apikal oleh auksin
pada batang;
d) mempercepat pertumbuhan memanjang.
4) Etilen
Dalam keadaan normal, etilen akan berbentuk gas dan
berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada
suatu tanaman. Hormon ini berperan pada proses pematangan
buah. Hubungan etilen dengan auksin yaitu etilen
memengaruhi pembentukan protein yang diperlukan dalam
aktivitas pertumbuhan.
5) Inhibitor
Inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada
tanaman inhibitor. Sering dijumpai pada proses perkecambahan,
pertumbuhan pucuk, atau dalam dormansi. Beberapa
jenis inhibitor yaitu asam absisat dan plant growth
retardant. Asam absisat terdapat pada daun, batang, akar,
umbi, tunas, buah, dan endosperm. Zat ini mempunyai
fungsi berlawanan dengan auksin, giberelin, dan sitokinin.
Plant growth retardant adalah inhibitor yang berlawanan
dengan kegiatan giberelin pada perpanjangan batang.
organik yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung, menghambat,
dan mengubah proses fisiologis tumbuhan. Pada
konsentrasi tertentu hormon dapat memacu pertumbuhan,
tetapi pada konsentrasi yang tinggi dapat menekan pertumbuhan.
Macam-macam hormon sebagai berikut.
1) Auksin
Auksin mula-mula ditemukan oleh Darwin,
dengan percobaan pengaruh penyinaran
terhadap koleoktil. Auksin adalah hormon
yang berperan merangsang pembelahan sel
dan pengembangan sel. Hormon auksin/
IAA memiliki sifat menjauhi cahaya.
Hormon ini diproduksi pada ujung tunas
akar dan batang. Pengaruh hormon auksin
dalam konsentrasi yang berbeda pada
bagian tubuh tanaman mengakibatkan
terjadinya pertumbuhan yang tidak seimbang.
Bagian yang mengandung auksin
lebih banyak memiliki kecepatan tumbuh
yang lebih besar. Adapun bagian yang
kekurangan akan mengalami pertumbuhan
lebih lambat. Jika ini terjadi pada pucuk
batang, terjadi pembengkokan arah pertumbuhan.
Pengaruh auksin terhadap perkembangan
sel memperlihatkan bahwa auksin dapat
menaikkan tekanan osmotik, meningkatkan
permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan
tekanan pada dinding-dinding sel, meningkatkan sintesis
protein, meningkatkan plas-tisitas, mengembangnya
dinding sel.
Dilihat dari segi fisiologi, hormon auksin berpengaruh
pada:
a) pengembangan sel; e) partenokarpi;
b) fototropisme; f) pembentukan batang.
c) geotropisme;
d) pertumbuhan akar;
a. pembelahan sel secara mitoses dan
sel tidak mengalami pembesaran
b. vakuola-vakuola terbentuk dalam
sitoplasma, pembesaran sel
dimulai
c. vakuola-vakuola bergabung sel
menjadi luas dan panjang
auxin
diangkut
ke
tangkai
bawah
daerah pembentukan
daerah auxin
pembelahan
sel
10 Biologi SMA Jilid 3
2) Giberelin
Giberelin merupakan jenis hormon yang mulamula
ditemukan oleh Kuroshawa dari Jepang.
Hormon ini berpengaruh terhadap sifat genetik,
pembungaan, penyinaran, dan mobilisasi karbohidrat
selama perkecambahan. Hormon ini berperan
dalam mendukung perpanjangan sel, aktivitas
kambium mendukung pembentukan RNA
baru, dan sintesis protein.
3) Sitokinin
Sitokinin ditemukan oleh Kinetin. Sitokinin berfungsi
untuk:
a) merangsang pembelahan sel;
b) merangsang pembentukan tunas;
c) menghambat efek dominasi apikal oleh auksin
pada batang;
d) mempercepat pertumbuhan memanjang.
4) Etilen
Dalam keadaan normal, etilen akan berbentuk gas dan
berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada
suatu tanaman. Hormon ini berperan pada proses pematangan
buah. Hubungan etilen dengan auksin yaitu etilen
memengaruhi pembentukan protein yang diperlukan dalam
aktivitas pertumbuhan.
5) Inhibitor
Inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada
tanaman inhibitor. Sering dijumpai pada proses perkecambahan,
pertumbuhan pucuk, atau dalam dormansi. Beberapa
jenis inhibitor yaitu asam absisat dan plant growth
retardant. Asam absisat terdapat pada daun, batang, akar,
umbi, tunas, buah, dan endosperm. Zat ini mempunyai
fungsi berlawanan dengan auksin, giberelin, dan sitokinin.
Plant growth retardant adalah inhibitor yang berlawanan
dengan kegiatan giberelin pada perpanjangan batang.
Fotoperiodisme
Fotoperiodisme
Interval penyinaran sehari-hari terhadap tumbuhan
mempengaruhi proses pembungaan. Lama siang hari di daerah
tropis kira-kira 12 jam. Sedangkan, di daerah yang memiliki
empat musim dapat mencapai 16 - 20 jam. Respon tumbuhan
yang diatur oleh panjangnya hari ini disebut fotoperiodisme.
Fotoperiodisme dipengaruhi oleh fitokrom (pigmen penyerap
cahaya). Fotoperiodisme menjelaskan mengapa pada spesies
tertentu biasanya berbunga serempak. Tumbuhan yang
berbunga bersamaan ini sangat menguntungkan, karena
memberi kesempatan terjadinya penyerbukan silang.
Berdasarkan panjang hari, tumbuhan dapat dibedakan
menjadi empat macam, yaitu:
a) Tumbuhan hari pendek, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran kurang dari 12 jam sehari. Tumbuhan
hari pendek contohnya krisan, jagung, kedelai, anggrek,
dan bunga matahari.
b) Tumbuhan hari panjang, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran lebih dari 12 jam (14 - 16 jam) sehari.
Tumbuhan hari panjang, contohnya kembang sepatu, bit
gula, selada, dan tembakau.
c) Tumbuhan hari sedang, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran kira-kira 12 jam sehari. Tumbuhan hari
sedang contohnya kacang dan tebu.
d) Tumbuhan hari netral, tumbuhan yang tidak responsif
terhadap panjang hari untuk pembungaannya. Tumbuhan
hari netral contohnya mentimun, padi, wortel liar, dan
kapas.
Interval penyinaran sehari-hari terhadap tumbuhan
mempengaruhi proses pembungaan. Lama siang hari di daerah
tropis kira-kira 12 jam. Sedangkan, di daerah yang memiliki
empat musim dapat mencapai 16 - 20 jam. Respon tumbuhan
yang diatur oleh panjangnya hari ini disebut fotoperiodisme.
Fotoperiodisme dipengaruhi oleh fitokrom (pigmen penyerap
cahaya). Fotoperiodisme menjelaskan mengapa pada spesies
tertentu biasanya berbunga serempak. Tumbuhan yang
berbunga bersamaan ini sangat menguntungkan, karena
memberi kesempatan terjadinya penyerbukan silang.
Berdasarkan panjang hari, tumbuhan dapat dibedakan
menjadi empat macam, yaitu:
a) Tumbuhan hari pendek, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran kurang dari 12 jam sehari. Tumbuhan
hari pendek contohnya krisan, jagung, kedelai, anggrek,
dan bunga matahari.
b) Tumbuhan hari panjang, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran lebih dari 12 jam (14 - 16 jam) sehari.
Tumbuhan hari panjang, contohnya kembang sepatu, bit
gula, selada, dan tembakau.
c) Tumbuhan hari sedang, tumbuhan yang berbunga jika
terkena penyinaran kira-kira 12 jam sehari. Tumbuhan hari
sedang contohnya kacang dan tebu.
d) Tumbuhan hari netral, tumbuhan yang tidak responsif
terhadap panjang hari untuk pembungaannya. Tumbuhan
hari netral contohnya mentimun, padi, wortel liar, dan
kapas.
Pengertian Fototropisme
Fototropisme
Percobaan N Cholodny dan Frits went menerangkan
bahwa pada ujung koleoptil tanaman, pemanjangan sel yang
lebih cepat terjadi di sisi yang teduh daripada sisi yang terkena
cahaya. Sehingga, koleoptil membelok ke arah datangnya
cahaya. Hal ini terjadi, karena hormon auksin yang berguna
untuk pemanjangan sel berpindah dari sisi tersinari ke sisi
terlindung.
Banyak jenis tumbuhan mampu melacak matahari, dalam
hal ini lembar datar daun selalu hampir tegak lurus terhadap
matahari sepanjang hari. Kejadian tersebut dinamakan
diafototropisme. Fototropisme ini terjadi pada famili Malvaceae.
Untuk lebih memahami pengaruh cahaya terhadap
tanaman atau perkecambahan, coba kamu rencanakan dan
laksanakan kegiatan berikut ini dengan teman sekelompokmu
Percobaan N Cholodny dan Frits went menerangkan
bahwa pada ujung koleoptil tanaman, pemanjangan sel yang
lebih cepat terjadi di sisi yang teduh daripada sisi yang terkena
cahaya. Sehingga, koleoptil membelok ke arah datangnya
cahaya. Hal ini terjadi, karena hormon auksin yang berguna
untuk pemanjangan sel berpindah dari sisi tersinari ke sisi
terlindung.
Banyak jenis tumbuhan mampu melacak matahari, dalam
hal ini lembar datar daun selalu hampir tegak lurus terhadap
matahari sepanjang hari. Kejadian tersebut dinamakan
diafototropisme. Fototropisme ini terjadi pada famili Malvaceae.
Untuk lebih memahami pengaruh cahaya terhadap
tanaman atau perkecambahan, coba kamu rencanakan dan
laksanakan kegiatan berikut ini dengan teman sekelompokmu
PRAKTEK PROTEIN (KELAS XII)
Tujuan :
- Mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein dengan tes biuret.
- Mengetahui adanya inti benzena dengan uji Xanthoproteat.
- Mengetahui adanya ikatan belerang (S) dengan uji Timbal asetat.
Alat dan Bahan :
| Alat dan Bahan | |
| Gelas kimia | Agar-agar |
| Pipet tetes | Gelatin |
| Tabung reaksi | Kapas |
| Penjepit tabung | Larutan Tembaga (II) asetat 1% (CuSO4) |
| Kaki 3 dan kasa | Larutan Natrium hidroksida 6 M (NaOH) |
| Spatula kaca | Larutan Natrium hidroksida 3 M (NaOH) |
| Gelas Ukur | Larutan Timbal (II) asetat {Pb (CH3COO)2} |
| Susu | Larutan CH3COOH 3 M |
Cara Kerja :
Jika positif (+) berwarna kuning jingga.
Jika positif (+) akan berwarna kehitaman.
- Uji biuret
- Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan ± 2-3 tetes CuSO4. Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan yang terjadi.
- Ulangi cara kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Bila ada yang tidak larut setelah ditambahkan NaOH, panaskan dahulu beberapa menit hingga semua larut, lalu dinginkan.
- Tes Xanthoproteat
Jika positif (+) berwarna kuning jingga.
- Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat, panaskan selama ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih. Amati perubahan yang terjadi.
- Ulangi cara kerja tersebut dengan menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
- Uji Timbal asetat
Jika positif (+) akan berwarna kehitaman.
- Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M dan panaskan ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah itu masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan Pb(CH3COO)2. Panaskan ± 2 menit. Amati perubahan yang terjadi.
- Ulangi langkah kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
| Bahan | Uji Biuret | Uji Xanthoproteat | Uji Timbal asetat |
| Putih telur | Ungu (+) | Oranye (+) | Tidak hitam (-) |
| Susu | Ungu (+) | Oranye (+) | Hitam (+) |
| Gelatin | Ungu (+) | Kuning (+) | Hitam (+) |
| Agar-agar | Ungu (+) | Oranye (+) | Hitam (+) |
| Kapas | Biru (-) | Putih bening (-) | Hitam (+) |
Kesimpulan :
- Ikatan peptida bereaksi dengan larutan biuret akan berwarna ungu. Sedangkan yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida.
- Inti benzena bereaksi dengan larutan Xanthoproteat akan berwarna kuning jingga.
- Ikatan S bereaksi dengan larutan Timbal asetat akan berwarna hitam pada kertas saring.














